Bagi seorang atlet yang mengandalkan kekuatan fisik dan ledakan tenaga, otot adalah aset yang paling berharga. Namun, saat memasuki bulan Ramadan, tantangan besar muncul: bagaimana mempertahankan ukuran dan kekuatan otot tersebut tanpa asupan protein dan kalori selama lebih dari 13 jam? Di wilayah pesisir barat Sumatera, para Cara Atlet Bengkulu mulai menerapkan pendekatan sains olahraga yang lebih modern untuk menjawab tantangan ini. Mereka menyadari bahwa tanpa strategi yang tepat, tubuh yang sedang berpuasa cenderung akan melakukan proses katabolik, di mana jaringan otot dipecah untuk dijadikan sumber energi alternatif.
Langkah pertama yang menjadi Cara Atlet di daerah ini bertahan adalah dengan mengatur ulang distribusi makronutrisi mereka secara drastis pada waktu makan yang terbatas. Fokus utama diberikan pada asupan protein yang memiliki laju penyerapan lambat atau slow-release protein seperti kasein yang banyak ditemukan dalam produk susu rendah lemak atau protein hewani tertentu saat sahur. Protein jenis ini memberikan aliran asam amino yang stabil ke dalam darah selama beberapa jam ke depan, sehingga membantu meminimalisir kerusakan jaringan otot selama mereka beraktivitas di siang hari yang terik.
Selain nutrisi, strategi latihan di Bengkulu juga mengalami pergeseran beban. Untuk Jaga Massa otot agar tidak menyusut, para pelatih menyarankan pengurangan volume latihan (jumlah repetisi dan set) namun tetap mempertahankan intensitas (beban angkatan). Hal ini bertujuan untuk memberikan stimulasi yang cukup pada otot agar saraf motorik tetap aktif tanpa harus membakar terlalu banyak kalori yang bisa memicu kelelahan ekstrem. Latihan beban dilakukan pada sore hari menjelang berbuka atau setelah shalat Tarawih, saat tubuh siap untuk segera mendapatkan asupan nutrisi pemulihan pasca-kontraksi otot yang berat.
Faktor hidrasi juga memegang peranan kunci dalam menjaga volume Otot agar tetap terlihat penuh dan berfungsi optimal. Otot terdiri dari sekitar 75% air, sehingga dehidrasi sedikit saja dapat membuat otot terlihat mengecil dan kehilangan kekuatannya. Atlet di Bengkulu diajarkan untuk mengonsumsi air secara konsisten antara waktu berbuka hingga sahur, dengan tambahan elektrolit untuk memastikan cairan benar-benar terserap ke dalam sel otot dan bukan hanya sekadar melewati sistem pembuangan. Keseimbangan cairan ini sangat krusial agar tekanan osmotik di dalam sel tetap terjaga, yang merupakan sinyal bagi tubuh untuk tetap dalam fase anabolik (pembangunan).